Di bulan Mei 2026 ini, ada kabar yang kurang menggembirakan perihal transportasi umum atau transum di Kota Depok, terutama soal Angkot AC Depok. Sebelumnya kehadiran transum yang satu ini telah menjadi harapan besar bagi warga Depok untuk bisa bermobilitas di kota Depok secara lebih aman dan nyaman. Dibandingkan dengan angkot konvensional lainnya, sudah jelas sekali angkot AC Depok ini punya banyak kelebihan.
Sebelumnya saya juga sudah sempat buat konten soal review Angkot AC Depok ini di konten Review Naik Angkot AC Depok beberapa waktu lalu.
Akan tetapi kabar mengejutkan datang dari Instagram PT Commuter Anak Bangsa (CAB) selaku operator dari angkot AC Depok di rute D10A jurusan Terminal Depok-Terminal Jatijajar ini. Dalam informasinya, mengabarkan bahwa Angkot AC Depok atau Mikrotrans Depok rute D10A ini resmi berhenti beroperasi per tanggal 2 Mei 2026.
Adapun angkot Mikrotrans Depok ini memiliki tarif sebesar Rp7.000 bagi penumpang umum dan Rp3.000 bagi penumpang pelajar. Tarif ini bersifat flat dan tidak berdasarkan dekat atau jauhnya tujuan dari penumpang.
Jika dilihat memang tarif angkot ini sedikit lebih mahal jika dibandingkan dengan angkot konvensional, terlebih tarifnya juga bersifat flat, mau itu dekat ataupun jauh. Tapi tentunya juga sepadan dengan layanan dan kualitas yang disediakan.
Rute dari angkot ini memiliki rute dari Terminal Depok, Margonda, Kartini, Grand Depok City (GDC), Abdul Gani, Cilodong, hingga tujuan akhir Terminal Jatijajar.
Dengan berhentinya layanan dari angkot ini, maka berdampak ke tidak tersedianya transportasi umum atau transum di area perumahan Grand Depok City (GDC). Hal ini benar-benar disayangkan banget karena di GDC sebenarnya ada banyak sekali tempat yang menarik untuk dikunjungi, terutama tempat kuliner, hiburan dan sebagainya, termasuk ke kawasan Alun-Alun Kota Depok.
Digantikan dengan Angkot Listrik?
Setelah angkot ini dinyatakan berhenti beroperasi, kini muncul rumor dan kabar baru lainnya. Rencana angkot rute ini akan digantikan dengan kendaraan listrik (EV) atau angkot listrik yang lebih ramah lingkungan, lebih efisien, dengan biaya operasional yang lebih murah. Dan selanjutnya juga berdampak ke tarif bagi penumpang yang akan lebih murah juga.
Untuk rute diperkirakan nantinya tidak akan mengalami perubahan dan akan tetap sama seperti angkot pendahulunya.
Saat ini memang lagi musim peralihan dari armada kendaraan berbahan bakar fosil atau gas ke kendaraan listrik (EV). Di Jakarta sendiri, sudah ada banyak rute bus Transjakarta yang menggunakan armada bus EV, baik bus BRT maupun non-BRT. Di beberapa kota lain seperti Bandung juga sedang menggalakkan transportasi umum angkot berbasis listrik belakangan ini. Sebelumnya di Kota Bogor juga pernah dilakukan upaya yang sama untuk angkot disana, namun tidak dilanjutkan lagi.
Akankah yang dilakukan di Depok ini akan berhasil? Baiknya kita tunggu saja dan terus pantau bagaimana perkembangannya. Semoga saja peralihan ke angkot EV ini tidak berlarut-larut terlalu lama.

