Di penghujung tahun 2025 yang lalu, ada kabar yang tentu saja mengharukan sekaligus sedih bagi para pecinta kereta (railfans), terutama railfans KRL. Terdapat tiga seri KRL yang dinyatakan pensiun per bulan November 2025 ini. Diantaranya yaitu KRL Tokyu seri 8500, JR seri 203, dan Tokyo Metro (TM) seri 7000.
Ketiga seri KRL tersebut juga sempat muncul dalam acara Last Run yang diselenggarakan pada hari Selasa, 11 November 2025 yang lalu. Dimana KRL JR 203 dan TM 7000 akhirnya melakukan perjalanan terakhirnya di tanggal tersebut. Sementara KRL Tokyu 8500 dijadikan sebagai museum pada event Mini Museum JALITA yang diselenggarakan sejak tanggal 10-16 November 2025 yang lalu.
Sayangnya saya tidak berkesempatan untuk hadir di acara last run hari Selasa tersebut karena event-nya diadakan pas hari kerja. Jadi saya cuma bisa hadir dan masuk di Mini Museum JALITA, sekaligus menaikki KRL Tokyu 8500 untuk yang terakhir kalinya.
Event Mini Museum JALITA

Dalam rangka memperingati perjalanan terakhir dari KRL Tokyu 8500, JR 203, dan TM 7000, di bulan November 2025 lalu diadakan acara Mini Museum JALITA yang diselenggarakan di stasiun Jakarta Kota. Acara ini berhasil menarik antusiasme railfans terkait KRL yang dinyatakan pensiun di tahun 2025 ini. Kebetulan juga acara ini gratis dan tidak dipungut biaya. Adapun acara ini merupakan kerjasama dari IRPS, salah satu komunitas preservasi kereta api di Indonesia dengan KAI Commuter.
Awalnya acara ini diselenggarakan hingga tanggal 14 November 2025 saja. Tapi karena antusiasme yang tinggi dari railfans, acara ini diperpanjang hingga akhir pekan berikutnya.
Adapun saya baru berkesempatan mampir ke acara ini pada hari Senin, 10 November 2025 yang lalu. Di acara tersebut, terdapat KRL Tokyu 8500 yang dijadikan sebagai mini museum yang berisikan sejarah, foto, replika, hingga pernak-pernik seputar KRL. Salah satu dokumentasi dan foto yang menjadi highlight dalam mini museum ini adalah terkait KRL Tokyu 8500, JR 203, dan TM 7000. Di acara tersebut, ditampilkan beraneka dokumentasi mulai saat KRL Tokyu 8500, JR 203, dan TM 7000 masih berdinas di Jepang, proses pemindahan ke Indonesia, hingga saat dinas melayani penumpang di Jabodetabek.
Untuk KRL Tokyu 8500 yang dijadikan sebagai museum tersebut sebenarnya bukanlah KRL JALITA yang asli. KRL Tokyu 8500 JALITA yang asli sudah terlebih dahulu pensiun dinas sekitar pertengahan tahun 2010an.
Saat masuk ke museum KRL tersebut, ternyata AC-nya masih berfungsi dan semburannya juga kencang dan dingin. Tapi sayang karena suku cadang untuk KRL Tokyu 8500 ini sudah sulit dicari, membuat KRL Tokyu 8500 ini terpaksa pensiun dan tidak melayani dinas Commuter Line lagi.
Kenangan di KRL Tokyu 8500

Sebagai pengguna rutin KRL sejak tahun 2009, KRL Tokyu 8500 (termasuk Tokyu 8000) menjadi salah satu seri KRL yang paling membekas sepanjang pengalaman saya naik KRL. Baik pada saat masih di jaman jahiliyah dimana KRL Ekonomi AC terkadang pintunya diganjal dan dipenuhi dengan penumpang di atap (atapers), hingga lebih manusiawi di jaman sekarang.
KRL Tokyu ini menjadi seri KRL yang pertama kali saya naiki sejak saya pindah ke Depok. Waktu itu di tahun 2009, KRL Tokyu ini liverynya masih menggunakan livery dengan dua warna yaitu strip kuning dan hijau. Kemudian liverynya berubah menjadi strip biru-kuning, serta strip merah-kuning untuk KRL Tokyu JALITA yang original.
Kalau diingat, sebenarnya saya punya semacam love-hate relationship pada KRL Tokyu 8500 ini. Dulu pas di tahun 2009-2013, KRL Tokyu 8500 ini menjadi KRL yang paling sering saya naiki. Disatu sisi, KRL ini pernah jadi andalan dimasanya dan menjadi KRL paling tahan banting jika dibandingkan dengan KRL pendahulunya seperti KRL Toei 6000. Tapi disisi lain, KRL ini pernah dikecam karena AC-nya yang kurang dingin sehingga berasa seperti di sauna berjalan saat naik KRL ini di jam sibuk. Bagaimana tidak, AC di KRL Tokyu 8500 ini dulunya masih menggunakan pendingin berupa kipas jadul. Sementara AC sentral dari KRL tersebut saat itu tidak terlalu berasa dingin.
Tapi KRL Tokyu 8500 ini memiliki keunikan yang menjadi ciri khas KRL ini yaitu suara akselerasinya yang ikonik dan beda banget dari KRL lainnya. Suara dari mesin itulah yang tentu masih membekas bagi pengguna KRL Commuter Line sejak tahun 2000an. Selain suara akselerasinya, KRL ini juga punya klakson elektrik yang suaranya merdu dan ikonik banget. Kalau klakson utamanya punya suara yang bisa bikin kaget, klakson elektriknya ini punya suara yang jauh lebih calm dan tidak mengagetkan.
Dulu saya juga pernah naik KRL Tokyu 8500 JALITA yang original, bukan JALITA Reborn yang dipajang untuk event Mini Museum JALITA beberapa waktu lalu. Dulu pernah naik KRL JALITA tersebut dari Manggarai hingga Depok. Saat itu liverynya menggunakan kombinasi warna merah-kuning. Sayangnya AC dari KRL JALITA saat itu tidak terasa dingin. Ditambah lagi dengan penumpang yang begitu banyak membuat udara dingin dari AC tidak terlalu berasa. Alhasil waktu itu benar-benar keringatan sepanjang perjalanan hingga jendela kaca KRL dibuka sebagian agar udara dari luar bisa masuk ke dalam KRL.
Di masa kuliah sekitar tahun 2012-2014 lalu, KRL Tokyu 8500 ini masih bisa dengan mudah untuk ditemui dan dinaiki. Hingga pada akhirnya KRL JR 205 masuk dan berdinas di jalur KRL Jabodetabek, membuat dominasi KRL Tokyu 8500 ini perlahan memudar dan berkurang dari waktu ke waktu.
Seputar KRL “Obag” JR 203

KRL pensiun lainnya yang menarik perhatian selain Tokyu 8500 yaitu JR 203. KRL JR 203 merupakan salah satu seri armada KRL Commuter Line yang pernah melintas di jalur KRL Jabodetabek. Didatangkan dari Jepang, tepatnya dari Jalur Joban (Joban Line), armada KRL seri JR 203 ini diharapkan bisa memperkuat serta memperbanyak layanan KRL Commuter Line di periode awal tahun 2010-an yang lalu.
KRL yang satu ini dikenal dengan nama “Obag” oleh para railfans di Indonesia. Disebut “obag” karena memiliki bentuk wajah depan yang mirip seperti gerobak. Bentuknya memang lebih kotak dibandingkan dengan seri KRL yang lain.
KRL ini berdinas untuk menggantikan KRL pendahulu yang kondisinya sudah tidak layak, baik KRL Ekonomi AC maupun KRL Ekonomi yang selanjutnya dihentikan layanannya. Saat itu, salah satu seri KRL yang beroperasi yaitu Toei 6000 kondisinya sudah sangat tua dan sering mengalami gangguan teknis. Oleh karena itu, KRL seri JR 203 ini hadir untuk mengatasi permasalahan tersebut, sekaligus menjawab permintaan pengguna KRL yang membutuhkan armada KRL yang lebih layak dan jadwal KRL yang lebih banyak.
Adapun kereta ini merupakan KRL kedua yang didatangkan dari JR East (Japanese Railway East) setelah sebelumnya pernah mendatangkan KRL JR 103 yang sudah pensiun terlebih dahulu.
Soal kereta ini, bisa saya nilai sebagai salah satu KRL yang agak berisik, gemblodak, tapi punya AC yang lebih dingin dibandingkan dengan Tokyu 8500. Dulu sering banget naik KRL seri yang satu ini saat kuliah di UI dulu. Tapi satu hal yang saya kurang suka dengan KRL ini yaitu tidak ada pegangan tangan atau handstrap di area dekat pintu. Ini persis seperti KRL Toei 6000 yang tidak terdapat pegangan tangan di area pintu.
Sayangnya KRL yang satu ini jumlah armadanya berkurang dari waktu ke waktu karena langka dan sulitnya untuk memperoleh suku cadang. Terlebih semenjak KRL JR 205 beroperasi, KRL ini mulai ditarik secara perlahan dari lintas menggantikan JR 203 yang mulai sering bermasalah. Ditambah lagi dengan kondisi dari kereta ini yang terkadang suka mengalami insiden seperti anjlok, membuat KRL ini tidak bertahan lama melintas kembali.
KRL Tokyo Metro 7000: Beda Dari yang Lain

Selain KRL Tokyu 8500 dan KRL JR 203, satu seri lainnya yang ikut dipensiunkan yaitu seri Tokyo Metro (TM) 7000. KRL ini merupakan salah satu KRL dari Tokyo Metro yang diboyong ke Jakarta dari Jepang untuk memperkuat armada KRL Commuter Line awal tahun 2010-an.
Kehadiran KRL TM 7000 ini memberikan refreshment atas armada KRL yang ada saat itu karena memiliki bentuk yang jauh berbeda dengan pendahulunya. Sebenarnya KRL TM 7000 ini digunakan dan memiliki spek layaknya kereta metro atau subway karena KRL ini dulunya memang digunakan untuk jalur metro di Tokyo yaitu jalur Yurakucho (Yurakucho Line).
Dulu pas awal-awal KRL ini beroperasi di Jabodetabek, rasanya kayak beda banget sama KRL yang lainnya. Berasa jauh lebih nyaman, AC lebih dingin dan kursinya lebih empuk. Tidak hanya itu, suara saat KRL ini berjalan juga lebih hening dan senyap dibandingkan dengan KRL lain.
Akan tetapi pamor dari KRL TM 7000 ini tertutup dengan adiknya yaitu KRL TM 6000 yang bentuknya serupa, tapi punya kualitas dan teknologi yang lebih canggih.
Sama seperti JR 203, KRL TM 7000 ini juga tak bertahan lama melintas di jalur KRL Jabodetabek karena langkanya suku cadang, faktor usia, dan faktor teknis lainnya yang membuat KRL ini terpaksa pensiun lebih awal.
Akan Dimuseumkan?
Dari sekian rangkaian KRL Tokyu 8500, JR 203 dan TM 7000 yang pensiun, menguat aspirasi dari para railfans untuk setidaknya memuseumkan kereta tersebut agar dapat dikunjungi kembali sebagai tempat untuk mempelajari sejarah KRL, sekaligus untuk bernostalgia bersama. Layaknya di Jepang, beberapa KRL legendaris yang beroperasi disana dimuseumkan sebagai sarana pembelajaran sejarah terkait perkeretaapian.
Tapi dari sekian KRL yang pensiun tersebut, nampaknya salah satu kereta KRL Tokyu 8500 direncanakan akan dimuseumkan di Museum Kereta Api di Ambarawa, Jawa Tengah untuk dipreservasikan disana. Sementara KRL lainnya terpaksa menelan pil pahit karena terpaksa “dikuburkan” dengan proses unspoor atau dilepaskan dari rel untuk selanjutnya ditumpuk di kuburan KRL di Depo KRL Depok. Hal tersebut membuat kuburan KRL bertambah satu lagi selain di dekat stasiun Cikaum dan Pasirbungur, yaitu di Depok.
Arigatou dan Sayonara!

Ketiga KRL tersebut telah memberikan warna serta cerita bagi setiap komuter ataupun pengguna KRL Commuter Line saat masih berdinas. Ada yang ke sekolah, kampus, ke kantor untuk bekerja dengan tiga jenis KRL tersebut. Ketiga KRL ini telah menunaikan tugasnya untuk mengantarkan penumpang KRL menuju ke tujuan yang dituju.
Tidak ada yang abadi di dunia ini, termasuk ketiga KRL ini. Di tahun 2025, ketiga KRL tersebut secara resmi purnabakti atau pensiun dari lintas KRL di Jabodetabek dan tidak akan terlihat lagi di lintasan rel. Tapi jasanya mengantarkan jutaan penumpang tidak akan terlupakan sepanjang masa.
Arigatou dan sayonara KRL Tokyu 8500, JR 203, dan TM 7000. Terima kasih atas jasanya selama melayani dan melintas di rel Jabodetabek.


